Ini karangan pertama yang aku post di blog ini. Semoga jadi bahan bacaan yang menarik. Maaf kalau jalan cerita dan penyusunannya kurang menarik karena aku bukan penulis. Aku hanya mengisi ini untuk mengisi waktu luang saja. Terimakasih.
Oh iya, di cerita ini settingnya di Korea ya.
-----
Minggu pagi
yang cerah. Aku mulai beranjak dari tempat tidurku dan langsung pergi mandi
untuk membersihkan tubuhku. Selesai dengan urusanku sendiri aku melanjutkannya
dengan menyelesaikan masalah lainnya, yaitu bersih – bersih rumah. Untung rumah
yang aku tinggali sendiri tidaklah luas, jadi tidak perlu menghabiskan banyak
waktu dan tenaga untuk menyelesaikannya.
Aku menuju dapur untuk membuat secangkir kopi panas dan
mengambil beberapa helai roti tawar yang sudah kusiapkan sebelumnya untuk ku
santap di sofa sambil menonton kartun pagi di televisi. Kuletakkan cangkir kopi
di meja kecil samping sofa tempatku duduk saat ini. Sementara tangan kiriku
menggerayangi sudut – sudut sofa mencari sebuah benda dengan puluhan tombol di
permukaannya.
Tak lama kemudian aku menemukan
benda itu, dan menekan salah satu tombol untuk menghidupkan pasangannya sambil
mengarahkan pada benda kotak di hadapanku. Kuletakkan kembali benda bernama
remote itu dan mengambil kembali cangkir kopi yang kutinggalkan beberapa saat
lalu.
Di
tengah asyiknya menonton TV ponselku berbunyi, sepertinya ada SMS masuk.
Mungkin seperti biasa, SMS promosi program baru dari operator. Tapi walau
bagaimanapun juga tak ada salahnya untukku melihatnya. Jadi, kulektakkan lagi
cangkir kopi dan mengambil ponsel yang tergeletak di samping TV di depanku.
“HaNi, minggu depan aku akan menikah. Jadi,
datanglah ke pernikahanku ya. Sebenarnya aku mau mengirim undangan ke rumahmu
tapi aku tidak tahu dimana tepatnya rumahmu.Kau harus datang !”
Salah
satu teman SMA ku sudah akan menikah padahal usianya baru 25 tahun, setahun
lebih tua dariku. Ini pertama kalinya aku menghadiri pesta pernikahan temanku,
pasti akan jadi ajang reuni.
1.
Hari Pernikahan
Aku
berjalan memasuki gedung tempat pernikahan temanku digelar. Aku sudah bisa
melihatnya walau di pintu masuk gedung. Dia terlihat cantik dengan gaun
berwarna putih yang megah itu. Aku terus memandanginya sampai akhirnya aku
menyadari orang – orang ada di sekelilingku yang berpakaian tak kalah cantik darinya.
Apa
aku salah kostum ? Sepertinya iya, aku hanya memakai celana jeans, kaos,
blazzer simple berwarna biru tua, sepatu flat hitam dengan pita di ujungnya,
dan tas slempang berwarna putih yang senada dengan warna kaosku sementara orang
– orang lainnya memakai dress dan bersetelan jas. Kuhilangkan perasaan tidak
nyaman dari diriku dan berjalan menghampirinya untuk mengucapkan selamat.
“
Selamat ya, sepertinya baru kemarin kita lulus.Tapi sekarang, kau sudah
menikah” ucapku padanya.
“
Iya aku juga merasakannya. Lagipula, terimakasih.kau sudah datang.” Dia
menjawab sambil tersenyum, tapi senyumnya memudar ketika dia mulai memandangi
penampilanku.
“
Oh, ini. Aku harus naik bis pulang-pergi jadi memakai celana adalah yang paling
aman.”
“
Tidak apa – apa, aku memakluminya. Oh ya, sebentar lagi aku akan melempar
bunga. Kau berdiri di dekat sini ya. “
“
Aku tidak tertarik dengan hal seperti itu.” Gumamku.
“
Oh, itu NaNa dan JiHo ! “ teriaknya. Aku
langsung berbalik badan dan mengalihkan pandanganku pada dua orang yang
berjalan menuju kemari.
“
Mereka serasi kan ? Itu mereka yang sering aku bicarakan !” ucapnya pada
suaminya.
NaNa
& JiHo, mereka adalah dua orang yang
pernah dekat denganku sebelumnya. Tapi entah kenapa, mereka berdua berbalik
menjauhiku. Mereka berdua berjalan semakin mendekat tanpa sedikitpun menoleh
kearahku, sepertinya mereka berdua tau keberadaanku. Aku yang merasa
kehadiranku tidak diinginkan oleh mereka menyingkir dari hadapan mereka dan
mengalihkan perhatianku pada makanan – makanan yang disediakan yang tak jauh
dari tempat pengantin.
Setelah
menghampiri pengantin mereka berdua beranjak turun dan sengaja berdiri di
dekatku saat ini. MC di pernikahan itupun meminta para wanita untuk mendekat ke
arah pengantin.
“
Sayang, doakan aku agar dapat bucket bunganya ya ?” ucap NaNa pada JiHo dengan
melirik ke arahku. Sepertinya dia sangat menginginkan bucket itu agar mereka
berdua bisa lekas menikah juga. NaNa sudah berdiri di barisan terdepan,
sepertinya dia sudah siap. JiHo tetap berdiri di tempatnya, dia hanya berdiri
satu meter di depanku.
“
Lempar padaku ya ?” aku membaca ucapan NaNa pada sang pengantin di depannya
yang siap melempar bucket bunga miliknya.
Dengan
pakaian terbuka seperti itu, geraknya akan sangat terbatas. Dan berdiri di barisan
paling depan, kemungkinan benda itu dilempar ke tempat dia berdiri sangat
kecil. Bukankah dia lebih pintar dariku ? Tapi kenapa untuk urusan seperti ini
dia tidak menganalisa dulu ?
Whoot
.... Tiba – tiba bucket itu menutupi ponsel yang ada di tanganku. Apa ini ? Apa
dia sengaja melemparnya padaku ?
“
Sepertinya yang mendapat bucket wanita di sana. Dia bahkan berdiri paling jauh
dan tanpa mengeluarkan usaha sedikitpun. Whoaa. Benar – benar keberuntungan ! Semoga
setelah ini kau yang menikah ya.” ucap sang MC diikuti suara riuh tepukan
tangan.
NaNa
menyingkir dari tempat sebelumnya dan menghampiri JiHo. Beberapa orang yang
ikut berkumpul tadi mendekati NaNa, beberapa dari mereka aku telah mengenalnya.
“
Tidak apa – apa lah kalau tidak dapat bucket bunga itu. Toh syarat utama
menikah kau harus punya pasangan, bukan bucket bunga.” Ucap Nana pada orang –
orang di sekitarnya sambil melirik padaku.
“
Kau benar sekali. Oh ya, kau dan pacarmu ini sudah pacaran berapa lama ? “
tanya salah satu diantara mereka yang tidak ku kenal.
“
Kira – kira lima tahunan. Mungkin setahun-dua tahun lagi kita akan menikah.
Setelah ini pasti kita akan membicarakannya.” Ucapnya.
Lima tahun ? Berarti sejak kita
lulus mereka berdua sudah menjalin hubungan. Apa aku sebodoh ini ? Bagaimana
aku tidak tahu kalau mereka berdua sebenarnya saling mencintai. Apa karena itu
mereka berdua menjauhiku sejak di bangku sekolah.
Sepertinya mereka memang pasangan
yang cocok, lihat saja penampilan mereka. Pasti mereka sudah mempunyai
pekerjaan berkelas. Tidak seperetiku yang hanya bekerja pada saat – saat
dibutuhkan. Bahkan aku sendiri tidak tahu jenis apa pekerjaanku ini.
Aku berjalan mendekati sebuah meja
untuk mengambil segelas minuman. Ketika aku berbalik, aku tidak menyadari ada
seseorang yang berdiri di belakangku sehingga minuman yang ada di tanganku
tumpah dan mengenai jasnya.
“ Maaf maaf maaf “ ucapku spontan.
“ Assh”
Dia
segera mengusap badannya yang terkena air dengan menggunakan tangannya, dia adalah JiHoo. Nana yang mendengar suara
JiHoo langsung berjalan cepat menuju dia. Nana langsung bertanya padanya “
Kenapa ini ? ” sementara JiHoo melirik padaku yang berdiri di depannya.
Sepertinya dia ingin mengatakan pada Nana kalau aku yang melakukannya. Benar
saja, Nana bisa membaca mata JiHoo dan langsung mendekatiku.
“
Kau ? Kau pasti sengaja kan melakukannya ? Apa karena kau tidak terima kalau
sekarang JiHoo bersamaku ? Bukankah dulu kau juga melakukan hal seperti ini
padaku ?” ucap Nana dengan nada keras.
“
Apa maksudmu ? “ tanyaku.
“
Apa maksudku ? Hah! Aku sedang membalas perbuatanmu yang telah kaulakukan
padaku. Termasuk ini ! “ Dia mengambil segelas air yang tak jauh darinya dan
melemparkan ke bajuku. Bukan hanya melemparku dengan air dia melemparkan
gelasnya juga. Seketika itu, bunyilah suara gelas pecah yang membuat seluruh
orang di acara itu memandang ke arahku.
“
Lihat ! Karena ulahmu sendiri orang – orang jadi memperhatikanmu. Bukankah kau
menyukainya ? “
Aku
segera menjongkok dan mengumpulkan pecahan gelas. Tapi bodohnya aku, pecahan
itu justru aku kumpulkan di telapak tangan kiriku dan entah bagaimana membuat
telapak tanganku mengeluarkan darah.
“
Aku iri padamu. Kau melakukan semua tanpa usaha dan kau mendapatkannya. Tapi
aku ? Aku bahkan berusaha keras tapi tetap saja aku tidak mendapatkannya.”
Ucapnya.
“
Biar aku saja, Nona.” Ucap seseorang yang sepertinya memang petugas kebersihan
di tempat itu. Aku berdiri dan melihat di sekelilingku sepertinya perhatian
mereka sudah teralihkan oleh MC acara. Saat yang tepat untuk aku pergi meninggalkan
tempat itu.
***
Sekarang
aku sudah berada di salah satu club dengan segelas soju di tanganku. Aku
mengamati bucket bunga di hadapanku yang gagangnya berlumuran darah. Lalu aku
melihat telapak tanganku yang masih mengeluarkan darah. Untung aku meminum
minuman ini, membuatku tidak bisa merasakan perihnya luka di tanganku. Aku juga
melihat bajuku penuh dengan noda minuman.
“
Nana, kau iri padaku ? Bagaimana kau bisa iri padaku ? Kau yang terpintar saat
di sekolah. Kau yang tercantik . Kau pandai masak . Kau bisa membuat apa pun.
Kau punya banyak teman . Dan kau punya keluarga harmonis. Kau bahkan hampir
sempurna.“
“
Kenapa kau iri padaku yang bahkan pernah mendapat peringkat terakhir. Masakanku
kadang tidak berhasil. Temanku hanya kau. Keluargaku bahkan tidak datang saat
upacara kelulusan.”
“
Apa karena itu. “
Aku
jadi teringat saat itu. Sekolah masih pagi aku baru datang ke sekolah. Saat aku
masuk ke kelas beberapa orang mengerumuni Nana dan mereka pergi saat aku
mendekatinya dan duduk di bangku sampingnya. Dia terlihat sibuk dengan make up
nya.
“
Ada apa ? “ tanyaku padanya.
“
Sekolah akan memilih model untuk sekolah kita. Dia akan masuk koran, majalah,
internet. Bisa jadi dia akan jadi artis suatu saat nanti. Orang – orang bilang
ini akan seperti pemilihan Miss Korea.” Jawab Nana.
“
Benarkah ? Kau pasti yang terpilih karena kau kan tercantik, terpintar,
berbakat, dan punya jiwa sosial yang tinggi. Iya kan ?”
“
Ah, kau terlalu memujiku.”
“
Ha Ni !” teriak seseorang yang berdiri di depan pintu.
“Lihat
wajahmu memerah, kau jangan salah tingkah di depannya.” Ledekku pada Nana. Dia
adalah Yun Ho, cowok yang ditaksir Nana sejak kelas satu. Dia berjalan mendekatiku
dan Nana lalu duduk di bangku depan Nana dan duduk berhadapan. Aku melihat
wajah Nana yang tersipu sambil terus tersenyum.
“
Ada apa kau kemari ? ” tanya Nana.
“
Aku mau beritahu sesuatu pada Ha Ni. Aku dengar ini langsung dari guru, katanya
kau terpilih jadi model sekolah. “
“
Apa benarkah ? “ tanyaku kaget. Aku melirik pada Nana yang lebih berharap
daripada aku. Senyum di wajahnya perlahan turun.
“
Benar. Makannya aku disuruh kemari untuk memanggilmu ke ruang guru. Ayo cepat.”
Aku
beranjak dari tempat dudukku dengan perasaan yang berat. Aku segera menemui
salah satu guru yang mengurusi masalah ini, tentunya dengan YunHo yang berdiri
di sampingku.
“Pak,
kenapa harus aku ? Aku pantas jadi ini. Aku punya teman yang sangat cocok untuk
menggantikanku, Pak. Dia pintar, cantik, dan sempurna. Hwang Na Na, kau tahu
kan? Dia juga terkenal.” Ucapku pada guru lelaki muda berkacamata di hadapanku.
“
Siapa bilang harus seperti itu ? Kau sudah kupilih, jadi tidak bisa menolak.
Sebenarnya YunHo yang memberi saran padaku. Setelah kupertimbangkan, kau sangat
layak.”
Setelah
mendengar penjelasan guru muda itu aku segera kembali ke kelas. Seperti tadi,
mereka berkumpul di tempat duduk Nana.
“
Mungkin karena dia lebih tinggi dariku.” Ucap Nana.
“
Dia datang !” ucap seseorang yang langsung membuat mereka kembali ke tempat
duduk mereka masing – masing.
“
Ternyata Pak Do Young yang melakukannya. Dia memilih siswi berbadan tinggi
secara acak, dan terpilihlah aku. Andai saja guru yang lebih baik yang
menentukan, mereka pasti memilihmu.” Aku sedikit mengarang ketika bercerita
padanya, agar dia tidak tersinggung atau marah. Apalagi jika dia tahu kalau
YunHo yang menyarankanku, dia akan sangat marah.
“
Kalau saja kau yang terpilih pasti hari
ini saja sudah bisa rekaman. Kalau aku, aku harus meminta mereka menunggu satu
minggu untuk menghafalnya.” Imbuhku.
“
Ada apa ?” tanya seseorang yang paling berarti di hidupku saat itu, Ji Ho. Dia
cinta pertamaku yang duduk di depanku. Meskipun aku dan dia tidak pacaran tapi
setidaknya aku dan dia tahu kalau kita berdua saling menyukai.
“
Aku dipilih paksa jadi model sekolah.”
“
Itu bagus. Itu membuktikan kalau kau yang terbaik.” Ucapnya dengan gaya khasnya
yang cuek dan jutek yang membuatku jatuh cinta padanya.
“
Yang terbaik bukan aku tapi Nana.”
“
Aku mau ke toilet. “ Nana pamit pergi ke toilet. Ini kesempatanku untuk
memberitahu Ji Ho yang sebenarnya terjadi. Aku juga memintanya untuk melakukan
hal yang sama seperti yang aku lakukan.
Aku
kembali meminum segelas Soju yang sebelumnya kutuangkan dari botol kaca
berwarna hijau itu. Apa karena itu dia iri padaku ? Tapi bukankah setelah itu
dia masih mau bicara padaku. Tunggu, bukankah Nana dan JiHo menjauhiku pada saat
yang sama. Bahkan Yunho juga melakukan hal yang sama, hanya saja dia masih
sering menyapaku ketika berpapasan. Sepertinya aku harus flashback lagi.
Hari
itu aku menyelesaikan pemotretan dan rekaman di salah satu ruangan sekolah yang
setelah pulang sekolah. Pak Do Young yang memotretku dengan kameranya.
Sementara Yunho yang merekamku dengan handycamnya. Sebelumnya aku menguncang
Nana dan JiHo untuk datang, tapi sepertinya mereka tidak mau datang padahal
sebelumnya mereka berkata ‘bisa’.
Aku
keluar dari ruangan itu dengan Yunho yang berjalan di belakangku.
“
Dimana mereka ? “ gumamku.
“
Ha Ni. “ Yunho memanggilku. Aku yang berdiri cukup jauh di depannya segera
membalikkan padaku. Dia mengarahkan handycam padaku, sepertinya dia masih
merekamku. “ Apa ?”
“
Maukah kau jadi pacarku ? “ tanyanya.
“
Apa ? Pacar ? Tapi ?”
“
Bukankah kau menyukaiku ?”
“
Ya tapi, aku menyukaimu sebagai teman.”
“
Sebagai teman dan aku seorang lelaki. Berarti sama saja kau menganggapku
sebagai pacar.”
“
Bukan seperti itu.”
“
Kenapa ? Apa kau sudah punya pacar ? “
“
Belum. “
“
Belum ? Berarti aku bisa kan ? Ha ? Kau mau kan jadi pacarku ? “tanyanya lagi.
“
Tapi ada seseorang yang menyukaimu.”
“
Tidak masalah. Aku tetap menyukaimu.” Sepertinya dia punya pendirian yang kuat.
“
Kenapa diam ? Kalau diam kuanggap itu jawaban ya.” Aku diam sejenak untuk
memikirkan apa lagi yang harus kukatakan pada Yunho.Aku masih berpikir. Apa aku
harus mengatakan yang sebenarnya pada Yunho. Sepertinya aku benar – benar harus
mengatakannya.
“Maaf
Aku menyukaimu tapi tidak mencintaimu. Aku mencintai orang lain, dia JiHo
meskipun aku bukan pacarnya. Dan seseorang yang menyukaimu, dia Nana. Dia yang
jauh lebih baik dariku. Tolong mulailah menyukainya.”
“
Aku terima kalau kau tidak mencintaiku karena kau sudah mencintai orang lain.
Tapi Nana. Aku tidak bisa.”
Sepertinya
mereka berdua sebenarnya datang dan mendengar percakapanku dengan Yunho dan
mereka pergi saat aku masih terdiam. Apa karena itu mereka salah paham dan
menjauhiku sejak saat itu. Sepertinya benar.
“ Nana, apa karena laki – laki bernama Yunho
kau jadi membenciku sampai saat ini? Bukankah kau pernah berkata padaku kalau
kau akan tetap memilih sahabatmu dibanding laki – laki yang kau sukai,
sekalipun itu pacarmu. Tapi kenapa sekarang kau malah bersama dengan Jiho. Dan
kau Jiho kenapa kau bisa – bisanya dengan Nana ?”
“
Kau memang orang yang baik Yunho, tapi mengenalmu membuatku kehilangan orang
yang menemaniku setiap hari. Hanya aku yang sendirian saat hari kelulusan.
Tanpa orang yang kucintai, tanpa sahabatku, tanpa orangtuaku. Tapi sekararng
aku menikmatinya, aku menikmati kesendirianku. Dengan sendirian, aku hanya
punya satu masalah, Dan masalahku hanya, kesepian. “ tak terasa air mengalir
dari mataku dan membasahi pipiku. Apa aku menangis ? Sepertinya ini tangisan
pertamaku sejak masih bersama Nana.
Aku
jadi teringat ketika terakhir kali aku menangis dengan Nana. Waktu itu aku
masih kelas 2 SMA dan saat itu aku menangis ketika bercerita dengan Nana lewat
telepon. Setelah satu – satunya orang tuaku yaitu ayahku lebih memilih tinggal
bersama kakakku yang baru menikah dengan menantu laki – laki di rumah baru
mereka di luar kota dan meninggalkan aku sendiri di rumah dengan alasan agar
aku bisa hidup mandiri.
Mereka
mengirimkan uang setiap bulannya untuk biaya sekolah dan biaya sehari – hari.
Sampai sekarang mereka masih mengirim uang untukku dan akan berhenti mengirim
setelah aku menikah.
Aku
bahkan pernah harus sangat berhemat selama dua bulan. Karena aku memakai uangku
untuk menambah biaya Nana untuk karyawisata. Waktu itu dia menangis karena dia
tidak bisa ikut karyawisata lantaran tabungannya di sekolah tidak cukup. Aku
tidak bisa membiarkan dia tidak ikut, kalau dia tidak ikut siapa yang akan
bersamaku di sana.
Jadi
aku memakai sebagian uangku untuk menambah tabungannya agar dia bisa ikut. Dan
dia terlihat sangat gembira setika guru memberitahunya kalau dia bisa ikut
pergi. Untung saja sebelumnya aku sudah mengatakan pada guru itu agar ketika
memberitahu Nana dia berkata kalau Nana mendapat tambahan dari sekolah. Aku
tidak mau dia tahu kalau aku membantunya. Dia akan marah, malu, dan merasa
canggung padaku kalau mengetahuinya.
Beberapa botol soju tergeletak di
hadapanku, sepertinya aku sudah minum banyak sekali. Aku benar – benar sudah sangat
mabuk. Luka di tanganku ini harus segera diobati sebelum infeksi.
Aku beranjak dari tempat itu dan
mampir ke sebuah apotik di pinggir jalan yang aku lewati tak jauh dari tempatku
mabuk tadi.
“ Aku minta alkohol.” Ucapku.
“ Maaf. Alkohol ? “ tanya pelayan
apotik.
“ Ya.”
“ Alkohol ?”
“ Ya.”
“ Alkohol yang untuk apa ? “
“ Ini apotik kan ? Jelas alkohol
untuk mengobati luka. Apa karena aku sedang seperti ini aku mau minum alkohol
itu ? Bukannya mabuk tapi aku bisa mati.”
“ Baiklah.”
“ Sekalian perban, kapas, obat
merah, dan plester. “
Tak berapa lama orang itu kembali
dengan membawa beberapa barang yang kuminta. Dia menghitung harga masing –
masing barang dan menjumlahkan total harganya. Kuletakkan bucket bunga di atas
meja kasir dan mengambil dompet dari dalam tas. Aku mengeluarkan satu – satunya
uang lembar yang tersisa di dalam dompet dan memberikan pada penjaga kasir.
“ Sepertinya kurang. “ ucacpku
sambil mengambil beberapa uang koin dari dalam dompet.
“ Apa masih kurang ?” tanyaku.
“ Iya.”
“ Pakai ini saja .” ucapku sambil
memberikan kartu atmku padanya.
“ Ini kembaliannya. Ini barang anda.
Terima kasih.”
Bagian 2 akan segera dipost .
